Waspada RUU TNI ! Apakah Orde Baru Akan Lahir Kembali?

    PSYCHE NEWS–Kamis (20/03/2025) Beberapa aktivis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta melakukan demonstrasi yang bertempat di Gedung Siti Walidah pada pukul 14.30 WIB. Demonstrasi tersebut dilaksanakan sebagai pantikan agar mahasiswa lainnya peduli akan keadaan negara dan melihat bagaimana reaksi dari pihak Universitas terhadap pengesahan RUU TNI yang disahkan oleh DPRD pada hari Kamis 20 Maret 2025.
Para aktivis mahasiswa yang menjadi demonstran mengumpulkan massa dari berbagai fakultas dengan cara menyebar pamflet di sosial media masing-masing dan memutuskan untuk berkumpul di Gor Kampus 2 untuk menjadi titik kumpul mereka. Aktivis mahasiswa juga telah menyiapkan beberapa tulisan sebelumnya untuk menyemarakan suasana, mereka juga membawa pengeras suara agar pihak Universitas menanggapi aksi yang mereka lakukan.
       RUU TNI menimbulkan reaksi perdebatan dan penolakan dari berbagai pihak. Karena cerita sejarah pada tahun 1998 berpotensi mengembalikan dwifungsi TNI dan militerisme. Dampak yang akan timbul dari disahkannya RUU TNI adalah pelanggaran HAM akan marak terjadi, masyarakat sipil takut akan hilangnya kesempatan untuk mengajukan suaranya, dan prinsip - prinsip dari demokrasi tidak dapat berlaku lagi.
Salah satu aktivis mahasiswa, Eky Mu’ammar menjadi perwakilan untuk menyampaikan sebuah tuntutan yang telah dikaji dari hasil rapat beberapa hari lalu hingga malam Kamis kemarin, yang melibatkan beberapa ORMAWA, UKM dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta. Inti dari tuntutan tersebut adalah penolakan pada revisi undang-undang TNI yang telah disahkan oleh DPRD secara tertutup, tergesa-gesa dan tanpa melibatkan partisipan publik. Tarik militer dari jabatan sipil dan kembalikan TNI ke barak purna. Bubarkan komando yang menjadi sebuah alat kontrol militer di wilayah pemerintahan sipil yang bertentangan dengan semangat reformasi. Menolaknya dwifungsi militer dalam sebuah pemerintahan sipil yang bertentangan dengan demokrasi.
Setelah mengamati pergerakan saat demonstrasi, universitas masih belum memberikan statement yang jelas terhadap keputusan RUU TNI. Naufal yang menjadi salah satu demonstran mengatakan, “Jika melihat respon dari pihak Rektorat Universitas, terkesannya mau main aman. Kemungkinan besar mereka masih terikat dengan sistem hierarki yang sami'na wa atho'na dengan atasannya yang harus diterapkan, sehingga belum bisa ikut serta menyatakan sikap membersamai kami,” jelasnya.
Belum adanya tanggapan yang pasti dari pihak Universitas terkait hal ini memberikan rasa kecewa demonstran, pada akhirnya memunculkan harapan yang dapat membakar semangat mahasiswa agar pihak Universitas tegas akan RUU TNI. “Gerakan aktivisme terutama di kampus yang memang dipelopori mahasiswa pada dasar masih memiliki inovasi dan daya juang yang tinggi. Harapanku tidak hanya pada momentum ini saja mahasiswa peduli akan negara, namun untuk kedepannya juga. Entah apapun itu, ada isu atau ada kejadian yang lainnya, gerakan aktivisme mahasiswa seperti ini tetap dijalankan. Seperti forum diskusi, forum formal antara pihak dosen dengan mahasiswa, mimbar bebas  atau aksi kecil-kecilan dan apapun itu yang sifatnya merawat nalar kritis kita, merawat idealisme kita,” ujarnya. Karena menurut Tan Malaka "Kemewahan yang paling mewah dimiliki seorang mahasiswa adalah idealismenya.”

Reporter : Kemuning & Melly
Editor    : Afra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parkiran Kampus Penuh, Mahasiswa Mengeluh

Mahasiswa UMS Gelar Aksi Pernyataan Sikap : Suarakan Suara Rakyat Demi Keadilan

Reuni dan Reorganisasi IKAPSI UMS: Ajang Temu Kangen Sekaligus Penguatan Solidaritas Antar Alumni